Wednesday, 28 May 2008

Fatty acid is Unsaturated

by. Yuni Primandini, S.Pt

Fat acids found in nature is divided to to become two factions, that is saturated fatty acid and fatty acid is not saturate. Fat acids is not saturate differs in in number and position of its(the double bond. Fatty acid is not saturated usually there is in the form of cis, in consequence molecule will curve at double bond, despite of also fatty acid is not saturated in the form of trans. Existence of double bond at fatty acid is not saturated generates possibility that the happening of isomer happened on course double bond, good at molecule having formation of conjugation and also nonkonjugasi, can happened isomer cis or trans on course double bond. Fatty acid with atom C more than twelve insoluble in cool water and also temperature water. Salts from fatty acid weights unsatiated and low molecule easier to dissolve in alcohol than salts from fatty acid weights high molecule and saturate.

Oleic acid is fatty acid is not saturate which many there is in triglycerides and has one double bonds. If(when fatty acid contains two or more double bond like at linoleic acid and acid linolenat, the fatty acid called as fatty acid is not high saturate ( polyunsaturated).

Omega-3

Omega-3 is nomenclature for fatty acid that is is not is saturate, that is having double bond which many. Omega-3 is configuraton kimiawi indicating that double bond that is first there is at atom C number 3 reckoned from bunch is back part ( omega). For example:

a. Linoleic acid ( C18:33) that is fatty acid is not saturate having atom C 18 with three double bonds, double bond that is first there is at atom C number 3 from tip of metal bunch.

b. Acid dokosaheksanoat ( C22: 63) be fatty acid is not saturate having atom C 22 with six double bonds.


APLIKASI KULTUR JARINGAN PADA HEWAN


PENDAHULUAN

Teknologi genetika merupakan cabang ilmu yang berkembang cepat dengan mengubah sistem produksi tanaman, ternak dan ikan menjadi industri biologi yang lebih baik dan lebih adaptif terhadap lingkungan tumbuh. Penerapan teknologi genetika dengan perubahan bentuk menjadi ideal pada tanaman, ternak dan ikan telah meningkatkan produksi pertanian pada abad ini (Budianto, 2000). Pada akhir abad ke-20 perkembangan teknologi genetika atau secara umum disebut bioteknologi mulai berkembang. Menurut Moeljopawiro (2000) bioteknologi dalam arti luas didefinisikan sebagai penggunaan proses biologi dari mikroba, tanaman atau hewan untuk menghasilkan produk yang bermanfaat bagi manusia. Sedangkan rekayasa genetika didefinisikan dalam arti luas sebagai teknik yang digunakan untuk merubah atau memindahkan material genetik (gen) dari sel hidup. Definisi yang lebih sempit, seperti yang digunakan oleh Animal and Plant Health Inspection Service (APHIS) Departemen Pertanian Amerika, rekayasa genetika modifikasi genetic dari suatu organisme dengan menggunakan teknologi rekombinan DNA.

Bioteknologi merupakan bidang ilmu yang dapat menyelesaikan masalah-masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan cara konvensional. Penggunaan bioteknologi bukan untuk menggantikan metode konvensional tetapi bersama-sama menghasilkan keuntungan secara ekonomi. Penggunaan metode konvensional dengan teknologi tinggi memaksimumkan keberhasilan program perbaikan pertanian. Bioteknologi harus diintegrasikan ke dalam pendekatan- pendekatan konvensional yang sudah mapan. Bioteknologi berkembang dengan cepat di berbagai sektor dan meningkatkan keefektifan cara-cara menghasilkan produk dan jasa. Alih teknologi dan pengembangan bioteknologi secara layak dan tidak merusak lingkungan, memerlukan berbagai persyaratan selain peraturan perundang-undangan juga modal yang besar.

Salah satu isu strategis yang penting dalam penelitian genetik saat ini ialah penelitian harus dapat secara terus menerus memperbaiki potensi genetik dan menghasilkan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan. Perbaikan bahan genetik melibatkan gabungan pemakaian cara pendekatan konvensional dan modern, dengan penekanan pada aplikasi bioteknologi dalam pelestarian plasma nutfah dan program pemuliaan. Kegiatan penelitian dan pengembangan bioteknologi dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu mikrobiologi terapan, kultur jaringan, dan biologi molekuler. Pada makalah ini hanya membahas kultur jaringan pada hewan dan aplikasinya.



2.1. Kultur Jaringan Hewan

Kultur jaringan dilakukan pertama kali pada awal abad ke-20 oleh Gottleib Haberlandt (pada tanaman) dan Alexis Carrel (pada hewan). Kultur jaringan komersial pertama dilakukan tahun 1920-an pada pembiakan klon tanaman dengan media buatan untuk tunas dan pertumbuhan tanaman anggrek. Sekitar tahun 1950-an dan 60-an terjadi kemajuan besar pada penelitian, setelah adanya perkembangan medium buatan yang baik (Murashige dan Skoog, 1962) kultur jaringan tanaman mulai benar-benar dikomersialkan. Kultur jaringan merupakan istilah yang digunakan untuk proses pertumbuhan sel secara artifisial di laboratorium (OSMS.otago.ae.nz/main/bursary). Kultur jaringan bertujuan untuk memanfaat-kan teknik kultur sel dan jaringan untuk perbaikan bahan genetik. Kegiatan penelitian tersebut terutama untuk mengembangkan teknik induksi dan regenerasi dari embrio dan protoplas, serta identifikasi genetis yang memiliki efisiensi tinggi dalam proses regenerasi yang merupakan bagian dari transformasi. Kultur jaringan dapat dilakukan pada tanaman maupun hewan. Kultur jaringan menghasilkan klon-klon yang memiliki genotif yang sama (kecuali terjadi mutasi selama proses pembiakan). Manfaat kultur jaringan pada tanaman dan hewan berkembang dengan modifikasi genetik menggunakan jasa virus dan bakteri sebagai vektor dan gene guns untuk menghasilkan organisme yang memiliki susunan genetik tertentu. Kultur jaringan membutuhkan antara lain

  • Jaringan yang sesuai (jaringan yang lebih baik)

  • Medium pertumbuhan yang sesuai yang terdiri dari sumber energi dan mineral anorganik untuk mensuplai pertumbuhan sel. Medium ini bisa berupa cair atau semipadat

  • Kondisi aseptik (steril) sehingga mikroorganisme tumbuh lebih cepat daripada jaringan tanaman dan hewan sehingga bisa mengambil alih fungsi jaringan

  • Pengatur pertumbuhan

  • Tanaman auxins & cytokinins

  • Hewan tersedia pada serum dari tipe sel yang dibiakkan

  • Jumlah subkultur untuk menjamin kecukupan nutrisi dan menghindari adanya sisa metabolisme

  • Jaringan hewan diperoleh dari spesimen partikular atau dari ‘tissue bank’ dari “cryo-preserved” (cryo = jaringan yang dibekukan pada suhu yang rendah dengan medium spesifik)

  • Jaringan ditempatkan pada medium yang sesuai pada kondisi aseptik

1. Shell-Less Chick Embryo Culture sebagai Model Alternatif In Vitro untuk Mengetahui Glukosa Penyebab Cacat pada Embrio Mamalia (Savita dan Bhonde, 2005)

Penelitian ini mengembangkan sistem pembiakan shell-less chick embryo secara sederhana untuk mengetahui glukosa penyebab cacat. Sistem ini meliputi pembiakan embrio ayam dari hari ke-2 sampai ke-5 masa inkubasi, yang dihubungkan dengan kuning telur dan ketebalan albumen yang menyelimuti telur. Embrio ayam dibiakkan pada cawan petri. Perkembangan embrio pada 24, 48 dan 72 jam pengeraman dengan perlakuan 2 konsentrasi glukosa 50 mM dan 100 mM untuk 24 jam.

Preparasi shell-less chick embryo culture dilakukan pada seluruh kultur embrio pada kondisi yang steril. Albumen tipis dari telur unfertil dimasukkan ke dalam cawan petri. Albumen ini berperan sebagai penahan benturan, menyediakan bantalan untuk kultur dan terbatas dilakukan pada desikasi. Telur yang fertil dipecah dari cangkangnya dengan bantuan scalpel kira-kira 3-3,5 cm dari ujung yang sempit dan isi telur kemudian diletakkan pada bantalan albumen yang ada pada cawan petri. Didapatkan bahwa peluang hidup embrio tinggi apabila isi telur ditransfer tanpa kerusakan embrio atau kuning telur dan embrio terjaga pada posisi yang tepat.

Setiap cawan petri ditutup dengan penutup, kemudian kultur diinkubasi pada suhu 37.5°C dan kelembaban 80%. Embrio ayam umur 24 jam (kira-kira HH tingkat 7-9), 48 jam (HH tingkat 12-14) dan 72 jam inkubasi (HH tingkat 19-21) digunakan untuk percobaan mengikuti pembagian tingkat menurut Hamberger Hamilton.

Perlakuan glukosa menghasilkan tingkat mortalitas lebih dari 70% pada embrio muda. Berbagai cacat seperti pertumbuhan yang terlambat, perkembangan jantung yang abnormal, makrosomia, exencephaly dan lain-lain yang diteliti pada embrio tua sama seperti yang dilaporkan pada embrio mamalia yang merupakan akibat kehamilan diabetik. Glukosa penyebab cacat yang ditemukan tergantung pada konsentrasi dan tingkatnya, ditekankan pada peran derajat hiperglisemia dan tingkat perkembangan embrio pada anomaly pertumbuhan diabetik. Penelitian ini menjelaskan bahwa sistem tersebut dapat digunakan untuk percobaan pada perkembangan embrio ayam pada tahap awal dan memperkirakan pengaruh toksisitas glukosa akut seperti yang dilaporkan pada embrio mamalia pada kondisi hiperglisemik.

2. Shell-less culture of the chick embryo sebagai sistem modeluntuk mempelajari perkembangan neurobilogi

Penelitian mengenai Shell-less culture of the chick embryo sebagai sistem model untuk mempelajari perkembangan neurobilogi telah dilakukan oleh Tufan et al., (2004). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan the shell-less culture system pada embrio ayam sebagai model penelitian lapangan yang potensial untuk mengamati perkembangan neurobiology. Dalam penelitian ini dijelaskan teknik shell-less culture model system pada embrio ayam dan menunjukkan perkembangan sistem saraf pusat mulai dari awal, tahap three-vesicle brain stage up sampai tahap five-vesicle brain stage ketika embrio mempunyai daya tahan 100%.

Materi yang digunakan adalah telur ayam yang telah dibuahi. Prosedur pelaksanaannya meliputi beberapa tahapan, yang meliputi:

  1. Tahap Preparasi komposisi biakan (Preparation of culture containers). Komposisi biakan terdiri dari polyethylene film yang bersifat transparan dan semipermeabel dan dilengkapi dengan pengaman yang berupa karet pengikat pada bagian mulut cup plastik silinder (diameter = 7 cm; tinggi = 7 cm) ditutup dengan cawan petri yang tertutup plastik . Komposisi biakan selanjutnya dipasteurisasi dengan sinar UV selama 1 jam.

  2. Penyiapan shell-less cultures. Shell-less cultures disiapkan sesuai dengan petunjuk Hamamichi dan Nishigori (2001) dengan sedikit modifikasi . Sesuai petunjuk, dilakukan tahap preinkubasi telur ayam yang telah dibuahi selama 30-33 jam pada 37,5oC pada inkubator telur sampai mencapai 9 tahap sesuai yang dijelaskan oleh Hamburger dan Hamilton (1951), (Ilustrasi 1A dan 1B). Persiapan untuk penempelan telur ditempatkan secara horisantal, disemprot dengan ethanol 70% dan diletakkan pada udara kering selama 10 menit untuk mengurangi kontaminasi pada permukaan telur dan juga untuk memastikan bahwa embrio berada pada posisi yang sesuai (Aurbach et al., 1974). Dilanjutkan dengan menempatkan telur pada ruangan yang sejuk untuk menghindari terjadinya pemecahan kuning telur pada proses eksplantasi (Giles dan Bandigan, 1999).

  3. Isi telur dipindahkan dalam keadaan aseptik (di dalam lapisan berlapis) ke dalam isi biakan melalui pemecahan sisi bawah tepi (1D dan 1E). Hanya kultur dengan posisi blastodisc pada bagian sisi atas kuning telur yang digunakan. Setiap shell-less culture ditutup dengan cawan yang ditutup plastik steril, kemudian dipindahkan dalam inkubator pada 37,5oC dengan kelembaban yang jenuh kemudian ditetaskan sesuai dengan waktu yang dibutuhkan . Pada penelitian ini inkubasi dilakukan selama 96 jam, termasuk 30-33 jam waktu preinkubasi untuk pengamatan sampai tahap five-vesicle brain stage.

    Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa shell-less culture pada embrio ayam adalah efesien. Melalui metode ini dapat diketahui perkembangan saraf embrio hewan vertebrata.


DAFTAR PUSTAKA

Budianto, J. 2000. Kemajuan, Tantangan, dan Peluang Teknologi Genetika dan Bioteknologi di Indonesia. Dalam S. Moeljopawiro et al. (Eds.). Prosiding Ekspose: Hasil Penelitian Bioteknologi Pertanian. Jakarta 31 Agustus-1 September 1999. Badan Litbang Pertanian. Deptan. hlm. 1-16.

Tufan, A. C.; I. Akdogan dan E. Adiguzel. 2004. Shell-less culture of the chick embryo as a model system in the study of developmental neurobiology. Neuroanatomy. Volume 3. Pages 8–11.http://www.neuroanatomy.org.

Moeljopawiro, S. 2000a. Pengaturan Keamanan Pangan Produk Pertanian Hasil Rekayasa Genetika. Seminar Sehari Pangan Rekayasa Genetika dan Penerangan PP No. 69 Tentang Label dan Iklan Pangan, Jakarta 12 Juli 2000.

Savita, D. dan R. R. Bhonde. 2005. Shell-Less Chick Embryo Culture as an Alternative in vitro Model to Investigate Glucose-Induced Malformations in Mammalian Embryos. J. of the Society for Biomedical Diabetes Research.

www.osms.otago.ac.nz/main/bursary. (Diakses tanggal 16 Februari 2008).




Wednesday, 2 January 2008

Toksisitas Mineral

Oleh Yuni Primandini, S.Pt

Mineral sangat dibutuhkan ternak dalam jumlah kecil (mikro), sehingga apabila asupan mineral pada ternak melebihi dosisnya, maka akan mengakibatkan toksin, berikut dijelaskan secara ringkas beberapa pengaruh yang disebabkan toksin mineral, diantaranya:

  • Natrium (Na)

Peningkatan konsumsi air pada keadaan tingkat garam yang meningkat

Kotoran banyak mengandung air

Pertumbuhan menurun

Kehilangan nafsu makan

Pertumbuhan bulu berkurang, sayap diregangkan

Pengeluaran cairan dari paruh, tembolok penuh cairan

Oedema, dehidratasi

Beberapa terjadi kematian

  • Magnesium (Mg)

Pertumbuhan makin terhambat

Magnesium dengan tingkat 1,2% dalam ransum menurunkan produksi telur

Tebal kulit telur berkurang

Ayam petelur yang mendapat ransum lebih dari 0,7% magnesium mengakibatkan kotoran basah

Susunan saraf pusat terdeplesi yang menyebabkan gangguan pernapasan dan jantung

  • Molybdenum (Mo)

Gejala klinis tentang keracunan Mo antara lain:

Diare, anoreksia, anemia, ataksia dan kelainan bentuk tulang

Penurunan bobot badan

Perubahan warna bulu


  • Tembaga (Cu)

Meningkatkan kadar Cu dalam hati

Menyebabkan hemolytic pada hewan yang bersangkutan menyebabkan kematian

Hypercupremia dapat menyebabkan hewan anemia, distrofi urat daging, tingkat pertumbuhan menurun dan gangguan reproduksi. Dalam keadaan keracunan yang akut, hewan bisa memperlihatkan gejala nausea, muntah, salvias, sakit di daerah abdomen, adanya konvulsi, paralysis dan collapse.

  • Kalium (K)

Mengganggu kontraksi urat daging

Mengganggu penyerapan dan retensi Mg yang dapat menyebabkan problema grass tetany

Penurunan konsumsi pakan

Gangguan syaraf

Kekejangan dan paralysis

  • Seng (Zn)

Pertumbuhan bulu tidak normal

Pernafasan tidak normal

Kehilangan nafsu makan

Keratosis pada kulit

  • Besi (Fe)

Keracunan Fe dapat meningkatkan kadar Cu dan P dalam plasma, tidak ada pengaruhnya terhadap haemoglobin tetapi konsentrasi Fe dalam hati, limpa, ginjal dan jantung meningkat, sedangkan kadar Cu dan Zn dalam hati akan menurun.

Terjadi diare, hipotermi, dan asidosis.

  • Cadmium (Cd)

Keracunan terjadi karena akumulasi selama bertahun-tahun dalam tubuh terutama dalam ginjal dan hati, tubuh tidak mempunyai mekanisme homeostatis terhadap Cd.

Kadmium menghambat kerja enzim sulfhydril yang penting untuk metabolisme selular

  • Selenium (Se)

Gejala keracunan Se antara lain:

Nafsu makan tidak ada, bulu ekor rontok, kuku lepas.

Gangguan pernapasan, kelaparan dan haus

Dikenal ada 2 tipe keracunan Se yaitu:

  1. Akut (Blind staggers)

  2. Kronis (Alkali staggers)

Variasi gejala keracunan tergantung pada bentuk kimia dari selenium yang termakan, lama dan kontinuitas berlangsungnya, serta sifat ransum.

  • Cobalt (Co)

Keracunan Co dapat mengakibatkan :

Gejala nafsu makan turun

Penurunan bobot badan

Anemia parah

Pemberian 5 mg menyebabkan kematian dari beberapa hewan yang diamati, pemeriksaan patologis memperlihatkan degenerasi hati, kogesti hati dan perdarahan di usus kecil.

Pencegahan Penyakit pada Broiler

  1. Biosecurity


Merupakan suatu sistem pengendalian terhadap keamanan integral dari suatu penyakit pada lokasi peternakan. Sistem ini mutlak dijalankan supaya terhindar dari penyakit yang dapat menyebabkan kematian pada unggas.

Titik poin dari biosecurity ini adalah dengan melakukan isolasi farm, karena beberapa penyakit (ND, IB) dapat dengan mudah ditularkan melalui udara, penyakit lain (Mg) pada umumnya ditularkan melalui kontak langsung. Selain itu manajemen biosecurity juga menitikberatkan pada tata letak kandang seperti: letak ruang ganti, letak kandang ayam dan letak ruangan kantor.


  1. Cleaning dan deinfeksi

Cleaning dan desinfeksi perlu dilakukan untuk memotong siklus penyakit yang mungkin muncul, karena beberapa penyakit seperti ND dapat bertahan 2-4 minggu dilingkungan, IBD bertahan berbulan-bulan dan oocyt penyebab dari koksi bertahan lebih dari 18 bulan

Adapun yang harus diperhatikan dalam cleaning adalah:

  • Spray insektisida

  • Bersihkan semua kotoran

  • Semua bagian kandang dibersihkan tanpa kecuali

  • Penggunaan detergen akan mempermudah cleaning

  • Semua peralatan kandang juga harus dibersihkan

  • Bersihkan dimulai dari bagian paling atas ke bawah/lantai

  • Bersihkan dimulai dari bagian dalam ke bagian luar

  • Gunakan pompa bertekanan tinggi

  • Atap, dinding, tirai dan semuanya yang ada dikandang harus bersih


Desinfeksi:

  • Dilakukan paling tidak dua kali. Yaitu setelah cleaning dan dua/tiga hari sebelum DOC datang

  • Pilih jenis desinfektan yang akan digunakan berdasarkan kebutuhan


Desinfektan:

  • Jenisnya meliputi Chlorine compound, aldehyde compound, phenol, iodine, ammonium compound, caustic soda (NaOH)

  • Faktor yang perlu diperhatikan adalah: kualitas air yang akan digunakan mencampur desinfektan dan konsentrasi serta aplikasi penggunaannya.


  1. Vaksinasi

Hal penting yang harus diperhatikan adalah:

  • Jenis vaksin yang digunakan

  • Teknik vaksinasi

  • Kualitas vaksin


Pada waktu pelaksanaan vaksin, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

Vaksinasi ND

  • Metode yang dapat digunakan spray, tetes mata dan cekok

  • Teknik pelaksanaan

  • Lakukan juga culling ketika vaksinasi dilaksanakan

Vaksinasi IBD

  • Metode yang dapat digunakan cekok dan air minum

  • Jika metode vaksinasi yang digunakan adalah melalui air minum, maka yang perlu diperhatikan adalah kualitas air, jumlah air yang digunakan (20-30 l/1000 ekor ayam), vaksinasi dapat selesai dalam 1-2 jam, tambahkan skim milk 2-4 gram/l air minum.

  • Umur dilaksanakan vaksinasi menjadi satu titik point penting untuk diperhatikan

  • Lakukan pemilihan type vaksin yang akan diberikan.


4. Pengobatan

Pada dasarnya pengobatan dilakukan sebagai upaya antisipasi atau mencegah penularan penyakit dari ayam yang terkena, akan tetapi dapat pula memberikan obat sebagai bentuk pencegahan bagi ayam yang sehat supaya terhindar dari penyakit.

Pemberian medikasi sebagai upaya pencegahan dapat dilakukan jika:

  • benar-benar diperlukan

  • berikan Umur 1-3 hari setelah ayam datang

  • berikan selama 3-5 hari sesudah vaksinasi

  • beriikan selama 3-5 hari sesudah dilakukan penggantian pakan.


*Erik Sholahuddin, S.Pt

Saturday, 29 December 2007

Tanda-tanda ayam akan bertelur

Ayam betina dewasa yang sudah kawin dan siap bertelur, penampilannya sangat periang. Sepanjang hari memeti (sibuk mencari sarang untuk bertelur) dan rajin mencari makanan di sekitar kandang. Bulu badannya rapat menghimpit satu sama lain, teratur rapid an mengkilap. Temboloknya penuh berisi makanan, tetapi tidak keras kalau diraba terasa hangat dan berjaringan halus.

Badan bagian belakang membesar, agak menonjol ke bawah, seolah-olah berbentuk pundi. Dinding perutnya agak tipis tampaknya, karena lapisan lemaknya berkurang. Lembut rasanya kalau diraba dari luar. Duburnya basah, berbentuk bulat panjang agak membusung. Tepat pada waktu bertelur, air mukanya agak pedih bagi ayam yang baru bertelur untuk pertama kali.

Biasanya setelah bertelur 15-20 butir, ayam menunjukkan tanda-tanda akan mengeram. Sepanjang siang dan malam duduk dalam sarangnya, bulu dadanya rontok sehingga botak kulitnya, dan mengeluarkan suara khas “kok,kok,kok,….” Jengger dan cupingnya tampak kisut dan pucat warnanya. Berat badan menyusut, kotoran agak emcee, bulu leher menjadi tegak seolah marah kalau didekati orang, mungkinh ketenangannya merasa terganggu. Kalau pengeramannya akan diteruskan untuk mendapatkan anak ayam, sediakanlah tempat pengeraman yang ruangnya teduh, kering dan tenang suasananya. Ruangan itu baik sirkulasinya, sehingga udaranya selalu segar.

*Yuni Primandini, S.Pt (dari beberapa sumber)

1. Mahasiswa Pasca Sarjana Program Magister Ilmu Ternak Fakultas Peternakan

Universitas Diponegoro Semarang

2. Alumnus Program Studi S-1 Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan

Universitas Diponegoro Semarang tahun 2006


DISCUSSION

Anda punya pendapat mengenai artikel diatas? Saya tunggu komentar Anda.........

Mengenal cara pembuatan silase

Pada musim penghujan hijauan pakan, limbah pertanian dan limbah perkebunan melimpah produksinya, sehingga pada musim penghujan ini terjadi surplus hijauan pakan. Pada musim penghujan hijauan pakan dapat diawetkan dalam bentuk silase (Rukmana, 2001). Widyati et al (1985) menyebutkan manfaat silase adalah untuk mengatasi panen yang berlebih di musim penghujan dan mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau. Silase adalah bahan pakan ternak berupa hijauan (rumput-rumputan atau leguminosa) yang disimpan dalam bentuk segar mengalami proses ensilase. Pembuatan silase bertujuan mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau atau ketika penggembalaan ternak tidak mungkin dilakukan (www. ristek. go. id, 2000).

Prinsip utama pembuatan silase adalah :

1. menghentikan pernafasan dan penguapan sel-sel tanaman.

2. mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses fermentasi

kedap udara.

3. menahan aktivitas enzim dan bakteri pembusuk.

Pembuatan silase pada temperatur 27-35º dan pH 4,2 – 4,8 menghasilkan silase dengan kualitas yang baik. Parakkasi (1999) menyatakan bahwa bahan aditif sengaja ditambahkan dalam pembuatan silase untuk menstimulasi fermentasi, karena dengan penambahan bahan aditif baik berupa bahan kimia (Na-bisulfat, sulfur dioksida, asam klorida) maupun bahan sumber karbohidrat (misal : tetes 3%, dedak halus 5%, menir 3,5%, onggok 3%) akan tercipta suasana asam. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan hijauan pakan dipotong-potong adalah untuk memperoleh pemadatan yang baik sehingga memperkecil kantong udara dan memperoleh keadaan hampa udara. silo yang tidak rapat menyebabkan tumbuhnya jamur.

Silase yang baik dapat diketahui melalui uji organoleptik dan pengujian secara kimiawi. Secara organoleptik ciri-ciri silase yang baik antara lain :

1. mempunyai tekstur segar

2. berwarna kehijau-hijauan

3. tidak berbau

4. disukai ternak

5. tidak berjamur

6. tidak menggumpal


Pengujian secara kimiawi dilakukan dengan cara menganalisa bahan pakan tersebut di laboratorium untuk mengetahui kandungan nutrisinya melalui analisis proksimat yang meliputi analisis kadar air, abu, protein kasar, lemak kasar dan serat kasar sedangkan pengujian secara biologis dilakukan dengan cara menggunakan ternak sebagai percobaan.

Beberapa metode dalam pembuatan silase:

1. Metode Pemotongan

- Hijauan dipotong-potong dahulu, ukuran 3-5 cm

- Dimasukkan kedalam lubang galian (silo) beralas plastik

- Tumpukan hijauan dipadatkan (diinjak-injak)

- Tutup dengan plastik dan tanah

2. Metode Pencampuran

Hijauan dicampur bahan lain dahulu sebelum dipadatkan (bertujuan untuk mempercepat fermentasi, mencegah tumbuh jamur dan bakteri pembusuk, meningkatkan tekanan osmosis sel-sel hijauan. Bahan campuran dapat berupa: asam-asam organik (asam formiat, asam sulfat, asam klorida, asam propionat), molases/tetes, garam, dedak padi, menir /onggok dengan dosis per ton hijauan sebagai berikut:

- asam organik: 4-6 kg

- molases/tetes: 40 kg

- garam : 30 kg

- dedak padi: 40 kg

- menir: 35 kg

- onggok: 30 kg

Pemberian bahan tambahan tersebut harus dilakukan secara merata ke seluruh hijauan yang akan diproses. Apabila menggunakan molases/tetes lakukan secara bertahap dengan perbandingan 2 bagian pada tumpukan hijauan di lapisan bawah, 3 bagian pada lapisan tengah dan 5 bagian pada lapisan atas agar terjadi pencampuran yang merata.

3. Metode Pelayuan

  • Hijauan dilayukan dahulu selama 2 hari (kandungan bahan kering 40% - 50%).
  • Lakukan seperti metode pemotongan

*Yuni Primandini, S.Pt (dari beberapa sumber)

1. Mahasiswa Pasca Sarjana Program Magister Ilmu Ternak Fakultas Peternakan

Universitas Diponegoro Semarang

2. Alumnus Program Studi S-1 Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan

Universitas Diponegoro Semarang tahun 2006

Sekilas pembuatan pakan pelet

Proses pengolahan pellet terdiri dari 3 tahap yaitu:
  • Pengolahan Pendahuluan

Ditujukan untuk pemecahan dan pemisahan bahan-bahan pencemar atau kotoran dari bahan yang akan digunakan.

  • Pembuatan pellet terdiri atas proses penguapan, pencetakan, pendinginan dan pengeringan.

  • Perlakuan akhir terdiri dari proses sortasi, pengepakan dan pergudangan

Pada proses pembuatan pellet terdapat proses kondisioning dimana campuran bahan pakan dipanaskan dengan air dengan tujuan untuk gelatinisasi. Tujuan gelatinisasi yaitu agar terjadi pencetakan antar partikel bahan penyusun sehingga penampakan pellet kompak, durasinya mantap, tekstur dan kekerasannya bagus.

Penguapan dalam proses pembuatan pakan berbentuk pellet bertujuan :

  1. Pakan menjadi steril, terbebas dari kuman atau bibit penyakit.

  2. Menjadikan pati dari bahan baku yang ada sebagai perekat.

  3. Pakan menjadi lunak, sehingga apabila diberikan pada ternak ayam maka

akan lebih mudah mencernanya.

4. Menciptakan aroma pakan yang lebih merangsang nafsu makan ayam.

Penguapan tidak boleh dilakukan diatas suhu yang diizinkan, yaitu sekitar 800C. Penguapan dengan suhu terlalu tinggi dalam waktu yang lama akan merusak atau setidaknya mengurangi kandungan beberapa nutrisi dalam pakan, khususnya vitamin dan asam amino.

Bentuk fisik pellet yang baik:

  1. Hardness (tingkat kekerasan )

Pellet yang baik mempunyai tingkat kekerasan yang sedang. Pellet tidak boleh terlampau keras atau terlalu lunak.

  1. Durabilitas

Durabilitas yaitu kemampuan dari pellet untuk mempertahankan bentuknya dari penanganan atau pada saat pengiriman. Pellet yang baik tidak mudah pecah, tidak retak-retak dan tidak berdebu.

  1. Appearance (penampilan)

Pellet yang baik mempunyai ukuran yang agak panjang dan seragam, bentuk rupanya baik dan kompak serta tidak ditumbuhi oleh jamur.

Menjaga kualitas Pelet

Menjaga kualitas pellet dapat kita lakukan dari beberapa segi yaitu:

    • Bahan Baku

Untuk membuat pakan yang bermutu diperlukan bahan baku yang berkualitas baik. Contohnya jagung kuning, kadar airnya tidak boleh berlebih karena jagung seperti ini kandungan nutrisinya akan menyimpang jauh dari nilai standar. Di samping itu, proses penggilingan menjadi bentuk tepung akan sulit dilakukan. Jagung yang terlalu lama disimpan tanpa ada upaya pengawetan tidak boleh digunakan karena kandungan nutrisinya akan menurun atau bahkan akan menghilang selama penyimpanan tersebut. Begitu juga bahan baku lainnya, seperti bungkil kelapa. Untuk bahan ini, jangan gunakan bahan yang telah tengik karena nutrisinya telah rusak. Apalagi menggunakan bahan baku yang telah berjamur, sangat tidak dianjurkan. Bahan demikian akan menimbulkan racun yang membahayakan ternak. Apabila penyimpanan bahan baku tidak sempurna, dapat dipastikan pakan yang dihasilakan akan berkualitas jelek. Karena itu, penyiapan bahan baku merupakan awal dari keberhasilan pembuatan pakan.

    • Formula pakan yang baik

Formula yang dibuat harus seimbang dengan kebutuhan nutrien yang diperlukan tidak berlebih atau kurang. Perlu dicermati apabila terjadi kesalahan pada penyusunan formula maka akan dapat mempengaruhi kualitas pellet dan itu juga akan mempengaruhi metabolisme dalam tubuh ternak yang mengkonsumsinya.

    • Proses penyimpanan pellet

Pellet yang telah dikemas dijaga supaya tidak terjadi kerusakan selama penyimpanan. Untuk itu, Perlu memperhatikan hal-hal berikut:

    • Kadar air tidak lebih dari 14%

    • Pakan harus dikemas dengan menggunakan karung plastic supaya tidak terjadi kontak langsung dengan udara

    • Pakan disimpan dalam ruangan yang sejuk, kering, tidak lembap, sirkulasi udara baik dan tidak terkena sinar matahari langsung

    • Tumpukan karung pakan sebaiknya tidak terlalu tinggi dan harus diberikan alas berupa platform dari kayu atau papan dengan ketinggian 10-15 cm dari lantai

    • Penerapan manajemen pergudangan, pakan yang akan digunakan adalah yang masuk ke gudang lebih awal (fifo-first in first out)

*Yuni Primandini, S.Pt (dari beberapa sumber)

1. Mahasiswa Pasca Sarjana Program Magister Ilmu Ternak Fakultas Peternakan

Universitas Diponegoro Semarang

2. Alumnus Program Studi S-1 Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan

Universitas Diponegoro Semarang tahun 2006


Pembuatan Hay

Hay adalah tanaman hijauan pakan ternak, berupa rumput-rumputan/leguminosa yang disimpan dalam bentuk kering berkadar air 20-30%. Pembuatan hay bertujuan untuk menyeragamkan waktu panen agar tidak mengganggu pertumbuhan pada periode berikutnya, sebab tanaman yang seragam akan memilik daya cerna yang lebih tinggi. Tujuan khusus pembuatan Hay adalah agar tanaman hijauan (pada waktu panen yang berlebihan) dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau. Ada 2 metode pembuatan hay yang dapat diterapkan yaitu:

1) Metode Hamparan

Merupakan metode sederhana, dilakukan dengan cara meghamparkan hijauan yang sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari. Setiap hari hamparan di balik-balik hingga kering. Hay yang dibuat dengan cara ini biasanya memiliki kadar air: 20 - 30% (tanda: warna kecoklat-coklatan).

2) Metode Pod

Dilakukan dengan menggunakan semacam rak sebagai tempat menyimpan hijauan yang telah dijemur selama 1 - 3 hari (kadar air: 50%). Hijauan yang akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar dan kandungan air optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur (tidak berwarna “gosong”) yang akan menyebabkan turunnya palatabilitas dan kualitas.

Pembuatan hay merupakan pengeringan atau tindakan yang dikerjakan untuk mengurangi kadar air sampai sekitar 20% agar hijauan ransum tahan lama disimpan. Biasanya dilakukan pada rumput atau tanaman biji-bijian. Hay adalah hijauan yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar dapat disimpan lama sebagai cadangan ransum pada saat musim paceklik. Kerusakan – kerusakan pada hay selama proses pengeringan, karena :

  1. Terjadi respirasi pada tanaman yang baru dipanen / diproses

  2. hujan sehingga kadar air tinggi menyebabkan nutrient larut dan atau ditumbuhi jamur. Pembuatan hay pada musim hujan penurunan kualitas 36%, pada musim kemarau 10%.

  3. Pada proses pengeringan terjadi perubahan zat-zat makanan seperti vitamin c dan karoten menjadi terurai, namun kandungan vitamin D bertambah.

  4. kerontokan dan hancurnya material hay karena pengeringan.

Pengaruh lain yang menentukan kualitas hay :

  1. Waktu defoliasi sebaiknya tepat pada saat menjelang berbunga

  2. Varietas rumput atau hijauan

  3. jarak tanam lebih dekat batang dan daun lebih halus dan banyak

  4. tanah dan pemupukan

  5. cara penyimpanan bebas air, api dan jamur

Pengeringan dengan sinar matahari merupakan cara yang paling mudah dan murah. Prinsip yang harus diperhatoikan adalah diusahakan hijauan lekas kering dengan sinar matahari. Caranya adalah sebagai berikut :

  1. menghamparkan hijauan setipis mungkin di lantai dibolak-balik

  2. menjemur diatas para-para, udara dari 2 sisi (atas bawah)

  3. menjemur pada tempat khusus dengan rongga-rongga udara tertentu, sehingga memperbesar dan mempercepat penguapan.

*Yuni Primandini, S.Pt (dari beberapa sumber)

1. Mahasiswa Pasca Sarjana Program Magister Ilmu Ternak Fakultas Peternakan

Universitas Diponegoro Semarang

2. Alumnus Program Studi S-1 Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan

Universitas Diponegoro Semarang tahun 2006

MANAJEMEN RECORDING

Salah satu faktor penunjang kesuksesan usaha peternakan sapi perah adalah sistem pencatatan (recording) yang baik. Pembuatan catatan dalam suatu usaha peternakan sangat perlu dilakukan, demi pengelolaan yang baik. Bagi seorang peternak, pencatatan merupakan sesuatu yang membebani karena terlihat rumit, ketika banyak hal yang perlu dibuat catatan. Sebenarnya catatan dapat dibuat secara sederhana namun tetap meliputi hal-hal yang bersifat penting. Secara umum catatan dibuat dalam sebuah buku besar, lembaran-lembaran yang dibukukan atau dibuat file.

Dengan adanya catatan tentang sapi maka dapat diketahui :

  • Silsilah (pedigree)

  • Daya produksi

  • Daya reproduksi

Sapi yang memiliki catatan dapat diketahui apakah ternak tersebut :

  • Dapat dipelihara secara ekonomis

  • Dapat dijadikan bibit

  • Dapat beranak setiap tahun

  • Menerima ransum sesuai dengan produksinya

Jenis recording :

  1. A record of birth (kelahiran)

  2. A record of breeding (pembibitan)

  3. A record of health (kesehatan)

  4. Production records (produksi susu)

  5. Feed records (pakan)

  6. A record of deaths and sales of animal (kematian dan penjualan)

Birth Records

Catatan kelahiran meliputi :

      1. Nama perusahaan

      2. Gambar anak sapi dari sebelah kiri dan kanan

      3. Nama

      4. Nomor telinga

      5. Bangsa

      6. Jenis kelamin, nama bapak dan induknya serta nomor telinganya

      7. Keterangan lain, misalnya kembar, abnormalitas dan lain-lain.

Catatan kelahiran segera dibuat pada saat pedet lahir, dengan pencatatan yang tepat mengenai kelahiran pedet tersebut maka silsilahnya dapat diketahui dengan cepat. Pencatatan sebaiknya dilakukan dalam sebuah buku besar dan tahan lama (tahunan), karena dapat memuat catatan kelahiran lebih banyak dan mempermudah dalam mencari data bila diperlukan. Contoh catatan kelahiran dapat dilihat pada tabel dibawah ini.


No. Sapi

Induk

Pedet

Pejantan

Jenis Kelamin

No. Pedet

Bibit

Keterangan

4442

9.10

9.10

119

Betina

5290-X

N

Baik

4885

9.13

9.13

LMY

Jantan

5291

A

Baik

4946

9.9

9.13

EBS.38

Jantan

5292

B.S.

Baik

4310

9.26

9.25

4766

Betina

5293

Y

Baik

4822

10.2

9.25

LMY

Betina

5294

A

Baik

4757

9.26

9.29

119

Betina

5295-X

N

Baik

4371

10.11

10.6

4766

Jantan

5296

Y

Cacat-mati

4961

10.6

10.8

J.B.

Jantan

5297

J

Mati

Tabel 1. Catatan kelahiran yang digunakan Dairy Farm Universitas IOWA, Amerika, 1966



Breeding Records

Recording bisa dibuat dalam berbagai macam, tetapi sebaiknya catatan dibuat dalam bentuk loose-leaf yang tahan lama, karena catatan dibuat mulai ternak itu ada sehingga dapat memakan waktu tahunan. Keuntungan pemakaian loose-leaf yaitu dapat dipindah ke arsip atau pencatatan lain seperti catatan penjualan dan kematian dan buku catatan tidak terlalu tebal. Pada setiap halaman juga harus dicantumkan indeks yang menunjukkan nomor ternak. Breeding record ini akan lebih mudah dibuat jika pada ternak terdapat ear tag.

*Yuni Primandini, S.Pt (dari beberapa sumber)

1. Mahasiswa Pasca Sarjana Program Magister Ilmu Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang

2. Alumnus Program Studi S-1 Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang tahun 2006

MENGENAL KOLIK PADA TERNAK KUDA

Kolik adalah rasa sakit di daerah perut, baik yang berasal dari alat pencernaan makanan atau bukan, yang ditandai dengan kegelisahan.

Macam-macam kolik:

    • Kolik Konstipasi (Impaksio Kolon)

Kolik konstipasi merupakan kolik yang ditandai dengan rasa sakit perut dengan derajat sedang, anoreksia, depresi serta adanya konstipasi.

    • Penyebab:

      1. Kualitas pakan yang terlalu banyak mengandung serat kasar dapat menyebabkan pasasi ingesta menjadi lambat dan ingesta mungkin tertimbun pada suatu tempat dalam kolon. Kurangnya air menyebabkan konstipasi.

      2. Kuda mengalami kepayahan karena pengangkutan atau operasi, pada akhirnya akan diikuti konstipasi.

    • Gejala-gejala:

        1. Kuda nampak lesu, nafsu makan menurun hilang sama sekali. Nafsu minum biasanya masih ada.

        1. Hewan masih sanggup berkeringat, serta masih berusaha untuk membebaskan feses didalam ususnya.

        2. Jumlah kemih secara semu berkurang

        3. Sering berak sehingga merangsang untuk mengeluarkan kemih dalam jumlah sedikit.

        4. Gangguan peredaran darah yang diderita tercermin dari hiperemi dan vasa injeksi dari konjungtiva

        5. Pada anak kuda umur 1-2 hari yang mengalami kolik tampak lesu dan feses tidak terlihat sama sekali.

  • Pencegahan:

    1. Minyak mineral (parafin cair) 2 liter untuk memudahkan pasasi feses pada kuda dewasa

    2. Khloralhidrat 15-30 gram dicampur dengan 1 liter air untuk melonggarkan gencetan ingesta

    3. Apabila konstipasi tidak berat, pemberian purgansia ringan misalnya istizin, aloe dengan dosis terkontrol

    4. Pada anak kuda diberikan gliserin 25-30 ml, minyak mineral 25-40 ml atau coloxyl yang diberikan melalui rektum.

      • Kolik Spasmodik (Enteralgia kataralis)

Kolik spasmodik adalah kolik akut, disertai dengan rasa mulas yang biasanya berlangsung tidak lama, akan tetapi terjadi secara berulang kali.

  • Penyebab:

  1. Pakan yang kasar mengakibatkan selaput lendir usus terangsang terus-menerus hingga terjadi radang traumatic yang cukup untuk merangsang syaraf parasimpatis hingga otot-otot berkontraksi lebih kuat.

  2. Pada waktu dikerjakan atau dalam pengangkutan mungkin terjadi gangguan peredaran pakan dalam usus, hingga merangsang otot berkontraksi lebih hebat

  3. Makanan yang liat seperti dedak ketan akan tinggal lebih lama di suatu tempat dalam usus dan reaksinya usus berkontraksi lebih kuat

    • Gejala-gejala:

      1. Kolik terjadi secara tiba-tiba, dengan diawali ketidaktenangan (mis: memukul-mukulkan kaki pada lantai)

      2. Kuda lebih sering meringkik, berulang kali menguap dan nampak lebih peka terhadap perubahan sekitar

      3. Nafsu makan hilang, tetapi nafsu minum masih ada

      4. Gejala dehidrasi, hiperemi pada selaput lender mata serta diare

  • Pencegahan:

    1. Pemberian spasmolitika mis. Atropine sulfat dengan dosis 15-100 mg disuntikkan secara subkutan atau intramuskuler

    2. Obat analgesika dan spasmolitika lainnya seperti pethidine, promazine, aspirin dan sodium salisilat

    3. Luka diberika antiseptika dan antitetanus

    4. Penjagaan status cairan tubuh

      • Kolik Timpani (Flatulent colic)

Kolik timpani adalah kolik yang disertai dengan timbunan gas yang berlebihan di dalam kolon dan sekum.

  • Penyebab :

Adanya distensi kolon atau sekum sehingga menyebabkan juga gangguan sirkulasi dan respirasi.

  • Gejala-gejala:

    1. Distensi abdomen akan terlihatdari luar, baik disebelah kanan maupun kiri yang pada perkusi akan menghasilkan suara resonansi timpanik

    2. kuda menjadi gelisah memukul-mukul lantai kandang, berjalan tanpa tujuan dan berguling-guling

    3. Keluar keringat yang berlebihan

    4. Hilangnya nafsu makan dan minum

  • Pencegahan:

    1. Trokarisasi, dengan trokar atau jarum injeksi besar, dilakukan pada bagian perut yang mengalami tingkat distensi paling besar.

    2. obat-obat antizymotik antara lain formalin, chloroform

    3. Minyak atsiri dipakai di bagian luar atau diminumkan. Pemberian bahan yang sangat merangsang misalnya cabe.

      • Kolik Lambung (Distensi lambung)

Kolik lambung merupakan kolik yang biasanya berlangsung akut, yang terjadi sebagai akibat meningkatnya volume lambung yang berlebihan.

  • Penyebab:

  1. Timbunan ingesta di dalam lambung, baik karena kualitas atau macamnya bahan pakan, akan merangsang bertambahnya sekresi air liur dan kelenjar lambung

  2. Pengambilan bahan pakan biji-bijian yang berlebihan, dapat mengakibatkan acidosis. Acidosis yang sangat akan menyebabkan laminitis (founder)

    • Gejala-gejala:

      1. Pada keadaan akut proses berlangsung dengan cepat, dalam 2-3 hari, sedang pada proses yang terjadi karena obstruksi distensi lambung terjadi sedikit demi sedikit

      2. Kuda berguling-guling, menyepak-nyepak perutnya, duduk seperti anjing, berkeringat profus.

      3. Kurangnya nafsu makan

      4. Feses yang dikeluarkan berjumlah sedikit dan berbentuk pasta

      5. Dalam beberapa minggu kuda menjadi kurus

        • Pencegahan:

          1. Usaha untuk mengurangi distensi dapat dilakukan dengan gastric lavage, dengan menggunakan sonde kerongkongan ukuran besar. Lambung diisi dengan 5-10 gram faali kemudian dikeluarkan dengan pompa atau dengan jalan disifon

          2. Pemberian minyak mineral (paraffinum liquidium) yang disusul dengan obat paramsimpatomimetik.


*Yuni Primandini, S.Pt (dari beberapa sumber)

1. Mahasiswa Pasca Sarjana Program Magister Ilmu Ternak Fakultas Peternakan

Universitas Diponegoro Semarang tahun 2007

2. Alumnus Program Studi S-1 Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan

Universitas Diponegoro Semarang tahun 2006